Statistics Calculator
BaruCalculate mean, median, mode, standard deviation, variance and more from a data set.
Numbers separated by commas, spaces, or new lines — results update instantly
Summary Statistics
Frequency Distribution
Sorted Data
Runs entirely in your browser. Nothing is uploaded.
Apa yang sebenarnya dilakukan kalkulator statistik deskriptif
Kalkulator statistik deskriptif mengambil sekumpulan data numerik mentah dan secara otomatis menghitung ukuran ringkasan kunci yang menggambarkan tendensi sentral, sebaran, dan bentuknya. Alih-alih mengurutkan nilai secara manual, menjumlahkan kuadrat, dan menerapkan rumus, Anda tempel angka Anda dan langsung mendapat mean, median, mode, standar deviasi, varians, kuartil, skewness, kurtosis, interval kepercayaan, dan lainnya. Statistik deskriptif adalah fondasi analisis data apa pun: statistik ini memberi tahu Anda seperti apa data Anda sebelum menjalankan uji inferensial apa pun.
Kalkulator statistik online gratis ini menangani dataset ukuran berapa pun, menerima angka yang dipisahkan koma, spasi, atau baris baru, dan memperbarui hasil secara real time saat Anda mengedit data. Alat ini menghitung statistik populasi dan sampel, menampilkan histogram distribusi frekuensi untuk analisis bentuk visual, dan menunjukkan dataset yang sudah diurutkan sehingga Anda bisa memverifikasi input sudah diproses dengan benar. Tanpa akun, unduhan, atau instalasi yang dibutuhkan — semua perhitungan berjalan lokal di browser Anda.
Cara memakai kalkulator statistik
Masukkan dataset Anda di area teks — ketik atau tempel angka yang dipisahkan koma, spasi, atau baris baru. Kalkulator mem-parsing input setiap ketukan tombol dan menampilkan semua hasil langsung. Tabel hasil menampilkan setiap statistik dengan label yang jelas. Mulai dari jumlah data (n) untuk memverifikasi semua nilai sudah di-parsing, lalu cek mean vs median untuk mengukur skewness, lalu tinjau standar deviasi untuk memahami sebaran, dan terakhir cek interval kepercayaan untuk melihat seberapa presisi mean diperkirakan.
Histogram frekuensi di bawah tabel menunjukkan bentuk distribusi sekilas: kurva bel simetris menunjukkan normalitas; histogram satu ekor menunjukkan skewness; bentuk bimodal (dua puncak) menunjukkan data berasal dari dua subgrup berbeda. Daftar data terurut di bagian bawah membiarkan Anda dengan cepat menemukan minimum, maksimum, dan nilai yang mencurigakan atau entri duplikat.
Mengapa memakai ini dibanding Excel, SPSS, atau alat online lainnya?
Dibanding rumus spreadsheet, kalkulator ini tidak butuh pengaturan, tidak butuh sintaks fungsi untuk dihafal, dan tidak ada risiko memakai rumus yang salah untuk varians populasi vs sampel. Di Excel, Anda butuh sel terpisah untuk STDEV.S, QUARTILE.INC, SKEW, dan KURT — dan setiap rumus harus diarahkan ke rentang yang tepat. SPSS menyelesaikan masalah rumus tetapi butuh instalasi dan lisensi yang dimulai sekitar $99/tahun untuk individu. R gratis tetapi punya kurva belajar yang berlebihan untuk sekadar ringkasan deskriptif cepat.
Dibanding kalkulator online gratis lainnya, alat ini menghitung rangkaian yang jauh lebih lengkap dalam satu tempat. Sebagian besar alat gratis berhenti di mean, median, dan SD — alat ini menambahkan skewness, kurtosis, tujuh persentil, dua interval kepercayaan, dan histogram. Semua perhitungan bersifat client-side — data Anda tidak pernah meninggalkan browser Anda dan tidak pernah dikirim ke server. Hasil bekerja di mobile dan desktop. Alat ini sepenuhnya gratis, tidak butuh pendaftaran, dan tidak ada batas penggunaan.
Konsep statistik kunci yang dijelaskan
Tendensi sentral: Mean adalah titik keseimbangan data — setiap nilai menariknya sebanding dengan jaraknya. Median adalah titik tengah fisik — separuh nilai berada di bawahnya, separuh di atasnya. Mode adalah nilai yang paling sering muncul; dataset bisa bimodal atau multimodal. Ketika mean dan median sama, data bersifat simetris. Ketika mean > median, distribusi condong ke kanan (right-skewed). Ketika mean < median, distribusi condong ke kiri (left-skewed).
Sebaran: Range (maks − min) adalah ukuran paling sederhana tetapi sensitif terhadap outlier. IQR (Q3 − Q1) mengukur 50% tengah secara robust. Varians dan standar deviasi memperhitungkan deviasi setiap nilai dari mean — SD adalah 'jarak tipikal' dari mean. Bentuk: Skewness mengukur asimetri kiri-kanan; kurtosis mengukur seberapa berat ekor distribusi relatif terhadap kurva normal. Keduanya penting saat memilih uji statistik — banyak uji mengasumsikan normalitas, dan skewness atau kurtosis yang tinggi mungkin membutuhkan transformasi data atau alternatif non-parametrik.
Penggunaan praktis: QC, penilaian, riset, dan keuangan
Untuk membandingkan dua grup, hitung mean dan SD masing-masing grup secara terpisah, lalu cek apakah mean-nya berbeda lebih dari dua SD — indikator kasar perbedaan yang berarti. Untuk mengecek normalitas, lihat skewness dan excess kurtosis: nilai antara −0,5 dan +0,5 untuk skewness menunjukkan hampir normal; nilai melebihi ±2 menandakan non-normalitas yang kuat. Histogram memberi cek visual.
Untuk kontrol kualitas, rentang mean ± 3 SD mendefinisikan batas kontrol yang dipakai dalam Six Sigma dan pemantauan proses. Untuk penilaian dengan kurva, hitung mean dan SD kelas, lalu hitung z-score = (nilai − mean) / SD masing-masing siswa untuk melihat berapa standar deviasi di atas atau di bawah rata-rata mereka mendapat skor. Untuk data keuangan, coefficient of variation (SD/mean) yang tinggi menandakan volatilitas relatif yang tinggi. Interval kepercayaan menunjukkan seberapa besar mean yang diperkirakan bisa bergeser jika Anda mengumpulkan lebih banyak data dari sumber yang sama.
Distribusi normal dan empirical rule
Distribusi normal — juga disebut distribusi Gaussian menurut matematikawan Johann Carl Friedrich Gauss, yang meresmikannya pada 1809 — adalah distribusi probabilitas paling penting dalam statistik. Distribusi ini menghasilkan kurva bel yang familiar, simetris terhadap pusatnya, dan sepenuhnya digambarkan hanya dengan dua parameter: mean (μ), yang mengendalikan di mana puncaknya berada, dan standar deviasi (σ), yang mengendalikan seberapa lebar atau sempit lonceng tersebut. σ yang lebih kecil menghasilkan puncak yang lebih tinggi dan sempit; σ yang lebih besar menghasilkan sebaran yang lebih pendek dan lebar. Distribusi normal muncul secara alami di mana pun besaran yang diukur adalah jumlah atau rata-rata dari banyak pengaruh acak yang independen — itulah sebabnya distribusi ini begitu sering muncul dalam biologi, rekayasa, dan ilmu sosial.
Empirical rule (juga disebut aturan 68-95-99,7) memberi cara langsung dan praktis untuk menginterpretasikan standar deviasi mana pun dari distribusi normal: sekitar 68% nilai berada dalam 1σ dari mean, 95% dalam 2σ, dan 99,7% dalam 3σ. Dalam praktiknya ini berarti nilai lebih dari 3 standar deviasi dari mean sungguh langka — terjadi pada sekitar 3 dari setiap 1.000 observasi — menjadikannya ambang alami untuk menandai outlier atau cacat produksi. Contoh klasik meliputi skor IQ (mean = 100, SD = 15, sehingga 95% populasi mendapat skor antara 70 dan 130) dan tinggi badan dewasa (kurang lebih mean = 175 cm untuk pria, SD ≈ 7 cm). Perancang tes terstandardisasi memakai properti ini secara sengaja: jika skor mentah terdistribusi normal, empirical rule memprediksi tepat berapa banyak peserta tes yang akan mendapat skor di setiap band.
Ketika Anda mengonversi nilai individual menjadi Z-score memakai rumus z = (x − μ) / σ, Anda menggeser distribusi ke distribusi normal standar (distribusi Z: μ = 0, σ = 1). Z-score memberi tahu Anda berapa standar deviasi sebuah nilai berada di atas atau di bawah mean — Z-score +2,0 berarti nilai tersebut dua standar deviasi di atas rata-rata, menempatkannya di sekitar persentil ke-97,7. Central limit theorem memperluas jangkauan distribusi normal lebih jauh: bahkan ketika titik data individual mengikuti distribusi non-normal, distribusi mean sampel mengonvergen ke distribusi normal seiring ukuran sampel bertambah. Itulah sebabnya interval kepercayaan, uji-t, dan ANOVA tetap valid dalam banyak analisis dunia nyata bahkan ketika data mentahnya tidak berbentuk lonceng sempurna.
Varians, standar deviasi, dan coefficient of variation
Varians didefinisikan sebagai rata-rata dari deviasi kuadrat dari mean: untuk setiap titik data, kurangi mean-nya, kuadratkan hasilnya, lalu rata-ratakan semua selisih kuadrat tersebut. Pengkuadratan memiliki dua tujuan: membuat setiap deviasi positif (sehingga deviasi negatif dan positif tidak bisa saling meniadakan) dan memberi bobot lebih berat pada deviasi besar dibanding yang kecil, menghasilkan ukuran yang sensitif terhadap nilai ekstrem. Kekurangannya adalah varians dinyatakan dalam satuan kuadrat — jika data Anda dalam kilogram, varians dalam kg². Ketidakcocokan satuan itu membuat varians sulit diinterpretasikan langsung, itulah sebabnya sebagian besar laporan analisis memakai standar deviasi sebagai gantinya.
Standar deviasi sekadar akar kuadrat dari varians, mengembalikan ukuran sebaran ke satuan yang sama dengan data asli. Rumus varians populasi membagi dengan n (ukuran populasi penuh), sementara rumus varians sampel membagi dengan n − 1. Pengurangan 1 tersebut disebut koreksi Bessel, dinamai menurut matematikawan Jerman Friedrich Bessel. Alasannya: nilai-nilai dalam sebuah sampel secara alami mengelompok sedikit lebih dekat ke mean sampel itu sendiri dibanding ke mean populasi sebenarnya, yang berarti membagi dengan n secara sistematis meremehkan sebaran populasi. Membagi dengan n − 1 mengoreksi bias ini, membuat varians sampel menjadi estimator tidak bias untuk σ². Koreksi ini paling penting untuk sampel kecil (n < 30) dan menjadi tidak signifikan untuk dataset besar.
Ketika Anda perlu membandingkan sebaran antar dataset yang diukur dalam satuan berbeda — atau dengan mean yang sangat berbeda — baik varians maupun SD tidak bisa langsung dibandingkan. Coefficient of variation (CV = SD ÷ mean × 100%) menyelesaikan ini dengan menyatakan sebaran sebagai persentase dari mean. Pertimbangkan dua saham: saham $10 dengan SD harian $2,00, dan saham $100 dengan SD harian $5,00. Dalam nilai absolut, saham kedua berfluktuasi lebih banyak. Tetapi CV saham pertama adalah 20% sementara yang kedua hanya 5% — jadi relatif terhadap harganya, saham $10 empat kali lebih volatil. CV dipakai luas dalam kimia analitik (untuk membandingkan repeatability metode pengukuran), kontrol kualitas manufaktur (untuk membandingkan variabilitas proses lintas lini produk), dan keuangan (untuk membandingkan risiko-per-unit-return lintas aset dengan tingkat harga berbeda).
Skewness, kurtosis, dan distribusi non-normal
Skewness mengukur asimetri sebuah distribusi di sekitar mean-nya. Dalam distribusi positively skewed (condong kanan), ekor memanjang ke kanan sementara sebagian besar nilai mengelompok di kiri — dan mean-nya tertarik di atas median: mean > median > mode. Distribusi pendapatan dan kekayaan adalah contoh kanonik: sebagian besar orang berpenghasilan dekat median, tetapi sejumlah kecil pendapat sangat tinggi menarik mean ke atas. Dalam distribusi negatively skewed (condong kiri) polanya terbalik — sejumlah kecil nilai sangat rendah menarik mean ke bawah median. Usia pensiun di negara dengan skema pensiun dini wajib sering condong kiri. Magnitudo skewness melebihi ±1 umumnya dianggap substansial; melebihi ±2 sering menandakan data butuh transformasi (seperti transformasi log) sebelum menerapkan uji yang mengasumsikan normalitas.
Kurtosis mengukur berat ekor sebuah distribusi relatif terhadap distribusi normal. Distribusi leptokurtic (excess kurtosis positif) punya puncak sentral yang lebih tajam dan ekor yang lebih berat — nilai ekstrem terjadi lebih sering dibanding prediksi model normal. Distribusi platykurtic (excess kurtosis negatif) punya ekor yang lebih ringan dan puncak yang lebih datar dan lebar. Contoh dunia nyata paling konsekuensial adalah return pasar saham: secara empiris, return ekuitas harian bersifat leptokurtic — crash besar dan rally besar terjadi jauh lebih sering dibanding yang disarankan distribusi normal. Itulah sebabnya model risiko yang mengasumsikan normalitas (seperti formulasi Value-at-Risk lama) secara sistematis meremehkan probabilitas kerugian ekstrem, kegagalan yang berkontribusi pada krisis keuangan 2008. Distribusi mesokurtic punya excess kurtosis mendekati 0, menyamai ekor kurva normal.
Banyak proses alami dan buatan manusia menghasilkan distribusi yang secara fundamental non-normal. Traffic website dan ukuran file sering mengikuti distribusi log-normal — logaritma nilai-nilainya terdistribusi normal, yang menciptakan bentuk condong kanan dengan ekor atas yang panjang. Magnitudo gempa bumi dan ukuran populasi kota mengikuti distribusi power-law, di mana kejadian yang sangat besar jarang tetapi jauh lebih umum dibanding yang diprediksi model normal. Ketika Anda mencurigai non-normalitas, dua uji formal umum dipakai: uji Shapiro-Wilk (andal untuk sampel kecil, n < 50) dan inspeksi visual Q-Q plot (quantile-quantile plot), yang membandingkan kuantil observasi terhadap kuantil teoretis distribusi normal — kesejajaran garis lurus menunjukkan normalitas, sementara kurva S atau ujung yang membengkok menunjukkan skewness atau ekor berat. Menerapkan uji-t atau ANOVA pada data yang sangat non-normal tanpa mengecek diagnostik ini berisiko menghasilkan p-value yang tidak valid.
Statistik deskriptif vs. inferensial: mengetahui apa yang diklaim angka Anda
Statistik deskriptif merangkum data yang benar-benar Anda miliki, tanpa membuat klaim apa pun soal populasi yang lebih luas. Mean, median, mode, range, varians, standar deviasi, kuartil, skewness, dan kurtosis semuanya bersifat deskriptif — mereka menggambarkan dataset ini. Jika Anda punya tinggi badan setiap pemain di satu tim basket, maka mean tinggi yang Anda hitung adalah mean populasi untuk tim tersebut; tidak dibutuhkan inferensi. Statistik deskriptif menjawab pertanyaan: 'Seperti apa data ini?'
Statistik inferensial memakai sampel untuk menarik kesimpulan tentang populasi yang tidak diukur sepenuhnya. Uji-t menanyakan apakah mean sampel cukup jauh dari mean populasi yang dihipotesiskan (atau dari mean sampel lain) sehingga perbedaannya kemungkinan bukan kebetulan. ANOVA memperluas ini ke tiga grup atau lebih. Uji chi-squared memeriksa apakah frekuensi observasi sesuai dengan frekuensi yang diharapkan. Regresi memodelkan hubungan antar variabel. Semua ini bergantung pada perbedaan sampel vs. populasi: mean populasi dilambangkan μ, mean sampel x̄; standar deviasi populasi adalah σ, SD sampel adalah s. Karena sampel bervariasi secara acak, setiap hasil inferensial membawa ketidakpastian — dikuantifikasi sebagai p-value atau interval kepercayaan.
P-value adalah salah satu angka yang paling salah dipahami dalam sains. P-value < 0,05 tidak berarti hasilnya penting, besar, atau bermakna secara praktis — itu hanya berarti, jika hipotesis nol benar, data seekstrem atau lebih ekstrem dari milik Anda akan terjadi kurang dari 5% waktu karena kebetulan semata. Ambang 0,05 itu sepenuhnya sembarang (Ronald Fisher memilihnya sebagai angka bulat yang praktis pada 1925) dan tidak punya klaim khusus atas kebenaran. Studi dengan n = 10.000 bisa menghasilkan p = 0,001 untuk perbedaan yang begitu kecil sehingga tidak punya konsekuensi dunia nyata. Itulah sebabnya statistikawan menekankan effect size (misalnya Cohen's d untuk membandingkan mean) di samping p-value: effect size menjawab 'Seberapa besar perbedaannya?' sementara p hanya menjawab 'Seberapa terkejut saya seharusnya jika perbedaannya nol?' Memahami keduanya esensial untuk menarik kesimpulan yang sehat dari data.
Frequently asked questions
Apa perbedaan antara mean dan median?
Mean adalah rata-rata aritmetika: jumlahkan semua nilai dan bagi dengan jumlah datanya. Median adalah nilai tengah ketika data diurutkan; untuk jumlah data genap, itu rata-rata dari dua nilai tengah. Mean memperhitungkan setiap nilai dan sensitif terhadap outlier — satu nilai yang sangat besar bisa menarik mean jauh dari pusatnya. Median tahan terhadap outlier dan biasanya ukuran nilai 'tipikal' yang lebih baik untuk distribusi yang condong seperti pendapatan, harga rumah, atau waktu reaksi.
Apa itu standar deviasi dan bagaimana cara menginterpretasikannya?
Standar deviasi mengukur seberapa tersebar nilai-nilai di sekitar mean. Standar deviasi kecil berarti nilai mengelompok rapat dekat mean; yang besar berarti nilai tersebar luas. Sekitar 68% nilai dalam distribusi normal berada dalam 1 SD dari mean, 95% dalam 2 SD, dan 99,7% dalam 3 SD (empirical rule). Jika dua dataset berbagi mean yang sama tetapi SD berbeda, yang punya SD lebih besar lebih variabel dan kurang bisa diprediksi.
Kapan sebaiknya saya memakai standar deviasi populasi vs sampel?
Pakai standar deviasi populasi (σ, membagi dengan n) ketika dataset Anda berisi setiap anggota grup yang Anda pedulikan — misalnya, semua nilai ujian untuk satu kelas tertentu. Pakai standar deviasi sampel (s, membagi dengan n−1, koreksi Bessel) ketika dataset Anda adalah sampel acak dari populasi yang lebih besar — misalnya, 50 nilai ujian yang diambil dari semua siswa di sebuah sekolah. Koreksi n−1 membuat SD sampel menjadi estimator tidak bias untuk SD populasi. Jika ragu, sebagian besar konteks riset memakai statistik sampel.
Apa itu kuartil dan IQR?
Kuartil membagi data terurut menjadi empat bagian yang sama. Q1 (persentil ke-25) adalah median dari separuh bawah data; Q3 (persentil ke-75) adalah median dari separuh atas data. Interquartile Range (IQR) = Q3 − Q1 mencakup 50% tengah data. Karena mengabaikan 25% teratas dan terbawah, IQR tahan terhadap nilai ekstrem dan merupakan ukuran sebaran standar yang dipakai dalam box plot. Titik data lebih dari 1,5 × IQR di luar Q1 atau Q3 secara konvensional ditandai sebagai outlier.
Apa arti skewness bagi data saya?
Skewness mengukur asimetri distribusi di sekitar mean. Nilai mendekati 0 menunjukkan data yang kurang lebih simetris. Skewness positif (condong kanan) berarti ekor lebih panjang di kanan — beberapa nilai yang sangat besar menarik mean ke kanan median. Skewness negatif (condong kiri) berarti ekor lebih panjang di kiri. Banyak distribusi dunia nyata condong positif (pendapatan, kekayaan, waktu reaksi). Skewness lebih besar dari ±1 umumnya dianggap condong secara substansial; melebihi ±2 sangat condong.
Apa itu excess kurtosis dan mengapa itu penting?
Excess kurtosis mengukur 'ketebalan ekor' distribusi relatif terhadap distribusi normal (yang punya excess kurtosis = 0). Excess kurtosis positif (leptokurtic) berarti ekor lebih berat dan puncak sentral yang lebih tajam — lebih banyak outlier ekstrem dibanding prediksi distribusi normal. Excess kurtosis negatif (platykurtic) berarti ekor lebih ringan dan puncak lebih datar. Kurtosis penting untuk risiko: distribusi return finansial dengan kurtosis tinggi punya kerugian atau keuntungan ekstrem yang lebih sering dibanding yang disarankan model normal.
Bagaimana cara kerja interval kepercayaan?
Interval kepercayaan (CI) 95% berarti: jika Anda berulang kali mengambil sampel dengan ukuran sama dari populasi dan menghitung CI setiap kali, 95% dari interval tersebut akan mengandung mean populasi sebenarnya. Ini dihitung sebagai mean ± 1,96 × SE, di mana SE = s/√n adalah standard error. Interval yang lebih lebar mencerminkan sampel kecil atau varians tinggi. Untuk membelah dua lebar CI, Anda perlu mengempat ukuran sampel. CI 99% memakai ±2,576 × SE dan lebih lebar — menukar presisi dengan kepercayaan yang lebih besar.
Bagaimana cara persentil dihitung?
Kalkulator ini memakai metode interpolasi linear (identik dengan sebagian besar software statistik termasuk R dan NumPy). Untuk persentil ke-p, hitung indeks = (p/100) × (n−1). Bagian bilangan bulat dari indeks memilih elemen dalam array terurut, dan bagian pecahannya menginterpolasi secara linear antara elemen itu dan elemen berikutnya. Misalnya, persentil ke-25 dari [1, 2, 3, 4] memakai indeks = 0,75, memberi 1 + 0,75×(2−1) = 1,75. Itulah sebabnya Q1 dari metode persentil bisa sedikit berbeda dari metode kuartil split-median.
Apa itu standard error (SE)?
Standard error SE = s/√n adalah standar deviasi dari distribusi sampling mean. Sementara standar deviasi menggambarkan sebaran dalam dataset Anda, standard error menggambarkan seberapa presisi mean sampel Anda mengestimasi mean populasi sebenarnya. Sampel yang lebih besar memberi SE lebih kecil dan estimasi yang lebih presisi. SE muncul dalam rumus interval kepercayaan dan dalam uji-t. SE berkurang proporsional terhadap akar kuadrat ukuran sampel — menggandakan ukuran sampel mengurangi SE dengan faktor √2 ≈ 1,41.
Bagaimana cara memasukkan data ke kalkulator statistik?
Ketik atau tempel angka Anda langsung ke area teks. Nilai bisa dipisahkan dengan koma (misalnya 4, 7, 13, 2), spasi, atau karakter baris baru — ketiga pemisah dikenali secara otomatis. Anda bisa mencampur pemisah dalam input yang sama. Token non-numerik difilter secara diam-diam, jadi menempel kolom dari spreadsheet dengan header kolom tetap baik-baik saja. Kalkulator berjalan ulang secara instan di setiap ketukan tombol, sehingga hasil diperbarui secara real time saat Anda mengedit data.
Statistik apa saja yang dihitung kalkulator ini?
Kalkulator menghitung: jumlah data (n), sum, mean, median, mode, minimum, maksimum, range, Q1, Q3, IQR, varians populasi (σ²), standar deviasi populasi (σ), varians sampel (s²), standar deviasi sampel (s), standard error (SE), skewness, excess kurtosis, interval kepercayaan 95%, interval kepercayaan 99%, dan persentil di P10, P25, P50, P75, P90, P95, dan P99. Alat ini juga merender histogram distribusi frekuensi dan menampilkan dataset terurut — semuanya dalam satu tempat tanpa akun yang dibutuhkan.
Apa itu ringkasan lima angka?
Ringkasan lima angka adalah deskripsi ringkas sebuah dataset yang terdiri dari: minimum, Q1 (persentil ke-25), median (Q2, persentil ke-50), Q3 (persentil ke-75), dan maksimum. Kalkulator ini menampilkan kelima nilai tersebut di hasilnya. Ringkasan lima angka adalah dasar dari box plot (box-and-whisker plot), yang secara grafis menunjukkan sebaran dan skewness data. Kotaknya membentang dari Q1 ke Q3 (IQR), garis di dalam kotak adalah median, dan whisker-nya membentang ke minimum dan maksimum.
Bagaimana cara mendeteksi outlier memakai kalkulator ini?
Aturan standar untuk deteksi outlier memakai IQR: titik data mana pun di bawah Q1 − 1,5×IQR atau di atas Q3 + 1,5×IQR ditandai sebagai outlier ringan; titik di luar Q1 − 3×IQR atau Q3 + 3×IQR adalah outlier ekstrem. Hitung nilai batas ini secara manual dari nilai Q1, Q3, dan IQR yang ditampilkan di tabel hasil. Outlier juga muncul sebagai skewness tinggi (mereka menarik distribusi secara asimetris) dan sebagai celah besar dalam daftar data terurut yang ditampilkan di bawah histogram.
Apa perbedaan antara varians dan standar deviasi?
Varians (s² atau σ²) adalah rata-rata deviasi kuadrat dari mean. Standar deviasi (s atau σ) adalah akar kuadrat dari varians. Keduanya mengukur sebaran, tetapi standar deviasi dinyatakan dalam satuan yang sama dengan data asli — membuatnya jauh lebih mudah diinterpretasikan. Misalnya, jika tinggi badan dalam cm, SD dalam cm tetapi varians dalam cm². Varians secara matematis nyaman (bersifat aditif untuk variabel independen: Var(X+Y) = Var(X) + Var(Y)) sementara SD nyaman secara interpretatif untuk pelaporan hasil.
Apa arti empirical rule (68-95-99,7)?
Empirical rule menyatakan bahwa untuk dataset yang terdistribusi normal, sekitar 68% nilai berada dalam satu standar deviasi dari mean (μ ± σ), sekitar 95% dalam dua standar deviasi (μ ± 2σ), dan sekitar 99,7% dalam tiga standar deviasi (μ ± 3σ). Aturan ini membantu Anda dengan cepat menilai apakah sebuah nilai tidak biasa — nilai lebih dari 3 SD dari mean hanya terjadi pada sekitar 0,3% kasus, menjadikannya kandidat kuat untuk outlier atau kesalahan entri data.
Bagaimana perbandingannya dengan memakai Excel, SPSS, atau R?
Excel mengharuskan mengetahui nama fungsi yang tepat untuk setiap statistik — STDEV.S vs STDEV.P, QUARTILE.INC vs QUARTILE.EXC — dan Anda harus menyiapkan sel terpisah untuk setiap ukuran. SPSS dan R menghasilkan angka yang sama tetapi butuh diinstal, dan SPSS butuh lisensi yang mulai sekitar $99/tahun untuk individu. R gratis tetapi punya kurva belajar yang berlebihan untuk sekadar ringkasan cepat. Kalkulator ini hanya meminta angka yang ditempel dan mengembalikan 25+ statistik dalam satu halaman, tanpa instal, tanpa lisensi, tanpa sintaks, dan tanpa daftar.
Related tools
Lihat semua perkakasKonverter JSON ⇄ CSV
Konversikan array JSON ke CSV dan CSV kembali ke JSON, dengan pengutipan yang tepat.
Pemformat XML
Percantik, perkecil, dan validasi XML langsung di peramban Anda.
Pemformat SQL
Percantik dan perkecil kueri SQL dengan penyesuaian huruf kata kunci dan pemisahan klausa.
JSON ke TypeScript
Hasilkan interface TypeScript dari sampel JSON, lengkap dengan tipe bertingkat.
Penampil CSV
Lihat, urutkan, dan cari berkas CSV atau TSV sebagai tabel rapi — di peramban Anda.
Matrix Calculator
Add, subtract, multiply matrices and compute determinant, inverse and transpose for 2×2–4×4 matrices.